Jauh Hari Sebelum Mengenal Bunga - Liza Rifan Muazin
News Update
Loading...

Thursday, May 30, 2019

Jauh Hari Sebelum Mengenal Bunga

Jauh Hari Sebelum Mengenal Bunga
Kisah ini terjadi saat aku dan Anis masih duduk dibangku SMP. Kebetulan dia sekelas denganku, namun hanya bertahan satu tahun. Setelah naik kelas 2 kita berdua berpisah karena memang sudah tradisi setiap tahun berganti kelas, kecuali kelasku, yang katanya kelas unggulan.

Aku dikenal dengan anak yang pendiam, ditambah lagi dengan keseharianku yan tak pernah pergi-pergi. Maklum saja, latar belakangku berasal dari keluarga yang biasa saja. Bahkan bisa dibilang telat dalam segala hal. 

Misal saja ketika dahulu teman-temanku kelas 2 SD sudah pandai bersepeda, sedangkan aku baru bisa bersepeda setelah kelas 5, apa lagi kalau bukan karena tak punya sepeda. 

Tapi aku bersyukur karena dengan begitu, sekarang aku jadi lebih bisa menghargai dan justru lebih kuat ketika menerima cobaan.

Karena aku yang pendiam akupun merasa acuh terhadap wanita. Awalnya sangat anti dengan cinta, bahkan tak pernah sedikitpun berfikir untuk mencintai seseorang. 

Namun karena sifatku yang friendly dan humoris ini membuat wanita didekatku banyak yang suka istilah jaman sekarang banyak yang dibuat baper. Tetap saja aku tak merasa, biasa saja, aku kau mereka masih tetap berteman seperti biasa.

Ideologi itu tak berjalan lama, masa-masa puber ini memaksaku untuk mencicipi apa itu cinta. Cinta pertama jatuh kepada seorang yang istimewa, karena dia yang paling berbeda.

Dialah satu-satunya anak yang memakai kerudung saat pendaftaran di SMP  dulu, aku ingat betul kala itu.

Namun itu kandas karena temanku sendiri juga mencintainya, bahkan dia memintaku untuk membantunya agar bisa dekat dengannya.

Kala itu benar-benar pahit, aku harus berusaha menutupi rasa ini demi menjaga pertemananku yang sudah terjalin sejak dulu. Disisi lain hati ini masih tetap ngeyel memperjuangkannya secara diam. 

Hingga suatu ketika temanku sudah tak tahan membendung perasaanya, dan akhinya diapun berani mengungkapkan perasaanya, meskipun meminta bantuanku.

Shit, Ini benar-benar patah hati yang paling disengaja.

Melihat teman seperjuangan mengungkapkan rasa pada seseorang yang menjadi cinta pertamaku.

Semenjak saat itu aku trauma dengan cinta, kalau bisa aku buang saja perasaan ini dari dulu. Alhasil kelas 2 ku di SMP menjadi amburadul.

Sering keluar kelas saat guru datang, bahkan sampai dihukum untuk tidak mengikuti pelajaran dari seorang guru ketrampilan selama sebulan.

Masa itu berakhir ketika naik kelas 3, mau tidak mau aku harus fokus dengan UN. Disisi lain sebenarnya masih ada wanita yang mengidamkanku sejak dulu kelas 7.

Ya benar itu Anis, sampai sekarang dia masih sayang padaku, bodohnya aku tak sadar dia sudah berjuang ini dan itu untukku.

Rasa ini mulai tumbuh ketika kita berdua mulai sibuk bersama untuk mempersiapkan penampilan saat perpisahan nanti.

Hingga saat selesai akupun memutuskan untuk memulai hubungan dengannya.

Hubungan ini berjalan lama, jika dihitung sampai sekarang sekitar 3 tahun. Namun dipertengahan tahun 2018 aku memutuskan untuk menyudahi ini semua, karena ingin fokus dulu dengan hidup masing-masing.

Intinya saat itu aku sadar bahwa anak muda sebenarnya memerlukan kebebasan yang mutlak, dan itu tidak berlaku jika sedang menjalin hubungan. Tetapi bukan berarti kita hilang tanpa kabar, meski kita sudah tak seperti dulu kita masih menjadi teman baik.

Bahkan terkadang kita saling berkirim, salah satunya ketika ayahku panen kacang, setiap Anis kesini aku pasti memintanya untuk membawa sebagian kacang untuk orang tuanya. Dan diapun juga begitu.

Beginilah sebenarnya yang membuatku senang, bukan hanya akrab dengan masing-masing orang tua tapi sudah naik ke fase berikutnya.

Sekarang pun masih seperti itu, sampai muncul sosok Bunga yang akhirnya membuat cerita baru dalam hidupku.

Untuk versi lengkapnya silakan lihat Aku Adalah Tawa Dan Tangismu

Share with your friends

1 comment

Notification
Done