Hidup Adalah Kebetulan, Bertemu Denganmu Misalnya? - Liza Rifan Muazin
News Update
Loading...

Tuesday, May 7, 2019

Hidup Adalah Kebetulan, Bertemu Denganmu Misalnya?

Hidup Adalah Kebetulan, Bertemu Denganmu Misalnya?
Ini merupakan cerita nyata yang saya alami, karena unik jadi akan saya ceritakan di sini. Selain itu sebagai penjelasan dari twit saya beberapa minggu lalu.

Awal Kita


Pagi hingga malam, malam hingga pagi, dan disaat senjapun masih saja menatap layar handphone. Setiap hari harus posting, membalas komentar, dan membalas balasan komentar dari followers. Ya begitulah yang dijalani oleh seorang admin suatu akun daily quotes di Instagram.

Hingga suatu ketika, hati ini jatuh pada salah satu followers yang awalnya berkomentar di salah satu postingan. Dari komentar berlanjut saling berbalas pesan, dari berbalas pesan berlanjut bertelfon hingga larut malam. Namun tak pernah sekalipun kita bertemu.

Bunga, itulah nama yang aku berikan padanya, sebenarnya itu hanya nama samaran, namun tak apa, lagian dia juga tak protes hehe. Dan kebetulan nama itu tak jauh berbedan dengan arti nama aslinya.

Meski hanya berbalas pesan, namun entah kenapa dengan mudahnya aku merasa nyaman. Akhirnya akupun memberanikan diri untuk menelfonnya. Setelah berbincang diapun akhirnya mengatakan hal yang sama sepertiku (sama-sama nyaman).

Buktinya dia mau menceritakan latar belakangnya secara gamblang kepadaku, seorang yang belum ia kenal sebelumnya.

Aku heran kenapa dia menceritakan hal itu kepadaku?

Dan menariknya, aktivitas kita berbanding terbalik. Bunga aktif di berbagai perkumpulan keagamaan entah di desa sendiri, di kecamatan, bahkan di sekolahpun dia ikut perperan. Sedangkan aku? sibuk dengan hidup yang masih berantakan ini.

Ternyata ada alasan kenapa dia seperti itu, dan kata itupun selalu teringat di kepala. "Kalau bukan kita yang 'nguri-uri' lalu siapa lagi? Jaman sekarang jarang sekali yang peduli dengan hal-hal seperti ini"

Hal ini membuatku  semakin salut padanya, karena dia mau melestarikan kebiasaan keagamaan yang sudah turun-temurun, bahkan dia bersedia membantu jika di daerah lain ingin mengadakan perkupulan semacam ini.


Satu Acara


Masih diminggu yang sama, karena kita hanya 3 hari berkenalan. Dan kebetulan beberapa hari lagi diadakan pengajian dan doa bersama di alun-alun kota. Bunga mengajaku untuk ikut hadir, karena diapun hadir. Akhirnya aku mengajak temanku untuk hadir diacara itu.

Temanku juga seorang blogger sepertiku siyo.site, setiap berkenalan dia mengaku namanya ialah "Siyo Tampan" namun saya sendiri lebih nyaman memanggilnya "O ong" entah dari siapa nama itu, memang sudah kebiasaan sejak dulu.

Seperti pada hari-hari sebelumnya, kali ini aku merasa kita akan bertemu. Namun entah kenapa masih ada yang mengganjal dan seolah berbicara "bukan sekarang waktu yang tepat untuk bertemu". 

Akupun selalu mengindar dan tidak menjawab ketika bunga bertanya dimana sekarang aku berada.

Setelah acara selesai aku meminta bunga untuk segera pulang dengan alasan karena waktu sudah larut malam dan cuacapun sepertinya akan turun hujan. 

Padahal aku hanya ingin dia tidak bertemu denganku saja. Beberapa menit kemudian aku pulang dan yakin tidak bertemu dengan bunga karena dia sudah pulang duluan.

Namun saat mengendarai motor aku merasa akan bertemu dengan bunga. Padahal kan dia sudah pulang beberapa menit lebih cepat dariku. "Pasti dia tidak akan bertemu denganku" bicaraku dalam hati untuk meyakinkan diri.

Akupun melanjutkan perjalanan pulang, dan tak sengaja melihat 2 orang berboncengan. Perasaan ini muncul lagi, "Jangan-jangan dia bunga?". Tak apa aku akan menyalipnya agar dia tidak melihatku. 

Sialnya, didepan persis ada lampu merah menyala. Dan ada seseorang dengan sedang berhenti di tengah jalan. 

Aku memilih berhenti di samping kiri dan berharap wanita itu berhenti di sebelah kanan agar terhalang orang yang berada ditengah. Namun tetap saja dia masih bisa melihat wajahku dari samping, akhirnya aku berlagak seperti melihat lampu di sebelah kiri agar dia tidak dapat melihatku.

Sesampainya dirumah, kita bertelfon kembali seperti biasa dan dia menceritakan apa yang dia rasakan di lampu merah. "Mas, tadi pas di lampu merah kok aku ngerasa masnya ada disitu ya?".  

Aku terkejut karena perasaanku benar, wanita itu adalah bunga. Dengan pura-pura tidak tahu aku bertanya balik "Yang bener aja, terus bunga liat aku?". "Engga mas, tapi aku ngerasa yakin banget kalo itu masnya"

Akhirnya akupun mengakui bahwa yang dilampu merah itu aku. Sejak merasakan hal-hal yang sama secara berturut-turut, kita pun merasa semakin nyaman satu sama lain.

Tapi sekedar teman ya, memang dari awal sudah direncanakan seperti itu, namun bagaimana akhirnya nanti saya serahkan saja pada waktu, biarlah waktu yang menjawab. Atau barangkali diantara kalian ada yang bersedia menjawab? Silakan jawab saja dikomentar.

Awalnya saya merasa pertemuan ini hanyalah kebetulan, namun setelah melihat kebelakang tanpa disadari saya sering memohon dalam setiap doa ataupun dalam pikiran saya yang intinya ingin dipertemukan dengan seseorang. 

Jadi memang benar, pertemuan kita yang dianggap sebagai kebetulan sebenarnya sudah kita rencanakan jauh-jauh hari.

Saya yakin kalian semua seperti itu, apa yang kalian alami saat ini pasti sudah direncanakan sebelumnya entah disadari ataupun tidak, jadi jagalah dengan baik apa yang anda minta dan pikirkan setiap saat.

Untuk versi lengkapnya silakan lihat Aku Adalah Tawa Dan Tangismu

Share with your friends

12 comments

  1. wahh mass.. baperin.. salam buat mbak Bunga nya yaaa kalau ketemu. tenang, jodoh gak akan keliru. deg2an itu pasti. karena jantung kita masih bereaksi.. hiyaaa. salam lestari !:v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke deh, lagian dalam pertemuan ini hanya hati yang berpartisipasi. Jantung saya masih sehat kok, tetap berdetak alakadarnya.

      Delete
  2. Uwowowwooo jadi pen ketemu gebetan dilampu merah niiiiiiiiiiiii wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Mas bambang jago juga ya bikin cerita horor. Suka sebatas dunia maya :v

    ReplyDelete

Notification
Done